Epidemiology
dan Diagnosis Penyakit Hirschsprung (Hirschsprung Disease)
Posted on
10 April 2010. Tags: Diagnosis
Penyakit Hirschsprung, Epidemiology
Penyakit Hirschprung, Hirschsprung,Hirschsprung
Disease, hirsprung
disease, Penyakit
Hirschsprung
Pada
tahun 1888 Hirschsprung melaporkan dua kasus bayi meninggal dengan
perut gembung oleh kolonyang sangat melebar dan penuh massa
feses. Penyakit ini disebut megakolon kongenitum dan merupakan
kelainan yang tersering dijumpai sebagai penyebab obstruksi usus pada
neonatus. Pada penyakit ini pleksus mienterikus tidak ada, sehingga bagian
usus yang bersangkutan tidak dapat mengembang.
Penyakit Hirschsprung merupakan kelainan perkembangan sistem saraf enterik
dan ditandai oleh tidak adanya
sel ganglion pada kolon distal sehingga menyebabkan
obstruksi fungsional. Sebagian kasus sekarang didiagnosis pada masa neonatus.
Penyakit Hirschsprung sebaiknya dipertimbangkan pada
neonatus yang gagal mengeluarkan mekonium dalam 24-48 jam setelah
dilahirkan.
Meskipun
enema kontras berguna dalam membantu menegakkan diagnosis, biopsi rektal
full thickness tetap merupakan kriteria standar.
Begitu diagnosis ditegakkan penanganan dasar adalah mengeluarkan usus
aganglionik yang berfungsi buruk dan membuat anastomosis ke
rektum distal dengan
usus yangmemiliki inervasi yang baik (dengan atau tanpa
pengalihan awal).
Epidemiologi.Penyakit Hirschsprung
Penyakit Hirschsprung terjadi pada 1 dari setiap 5.000 bayi yang lahir dan ini berhubungan pada 1 sampai dengan 4 dari obstruksi usus pada bayi baru lahir. Referensi lain mengatakan bahwa penyakit ini terjadi pada 1 dari 1500 hingga 7000 bayi baru lahir. Ini 5 kali lebih sering pada laki-laki dan kadang-kadang terjadi dengan kondisi kongenital lainnya seperti Down Syndrome. Di Amerika Serikat penyakit ini terjadi kurang lebih pada 1 kasus setiap 5400 hingga 7200 bayi baru lahir.
Penyakit Hirschsprung terjadi pada 1 dari setiap 5.000 bayi yang lahir dan ini berhubungan pada 1 sampai dengan 4 dari obstruksi usus pada bayi baru lahir. Referensi lain mengatakan bahwa penyakit ini terjadi pada 1 dari 1500 hingga 7000 bayi baru lahir. Ini 5 kali lebih sering pada laki-laki dan kadang-kadang terjadi dengan kondisi kongenital lainnya seperti Down Syndrome. Di Amerika Serikat penyakit ini terjadi kurang lebih pada 1 kasus setiap 5400 hingga 7200 bayi baru lahir.
Pada
anak-anak yang lebih tua, tanda dapat mencakup:
·
Perut yang buncit
·
Letargi
·
Masalah
dalam penyerapan nutrisi, yang mengarah penurunan berat badan, diare
atau keduanya dan penundaan atau pertumbuhan yang lambat.
·
Infeksi kolon,
khususnya anak baru lahir atau yamg masih sangat muda, yang dapat
mencakup enterokolitis, infeksi serius dengan diare, demam dan muntah dan
kadang-kadang dilatasi kolon yangberbahaya.
Pada
anak-anak yang lebih tua atau dewasa, gejala dapat mencakup
konstipasi dan nilai rendah dari sel darah merah (anemia) karena
darah hilang dalam feses juga disertai dengan leukositosis.
Diagnosis Penyakit Hirschsprung
Pemeriksaan yang digunakan untuk membantu mendiagnosa penyakit Hirschsprung dapat mencakup:
Pemeriksaan yang digunakan untuk membantu mendiagnosa penyakit Hirschsprung dapat mencakup:
Foto
polos abdomen (BNO)
Foto polos abdomen dapat memperlihatkan loop distensi usus dengan penumpukan udara di daerah rektum. Pemeriksaan radiologi merupakan pemeriksaan yang penting pada penyakit Hirschsprung. Pada foto polos abdomen dapat dijumpai gambaran obstruksi usus letak rendah, meski pada bayi sulit untuk membedakan usus halus dan usus besar.
Foto polos abdomen dapat memperlihatkan loop distensi usus dengan penumpukan udara di daerah rektum. Pemeriksaan radiologi merupakan pemeriksaan yang penting pada penyakit Hirschsprung. Pada foto polos abdomen dapat dijumpai gambaran obstruksi usus letak rendah, meski pada bayi sulit untuk membedakan usus halus dan usus besar.
Bayangan
udara dalam kolon pada neonatus jarang dapat
dibedakan dari bayangan udara dalam usus halus. Daerah rektosigmoid
tidak terisi udara. Pada foto posisi tengkurap kadang-kadang terlihat jelas
bayangan udara dalam rektosigmoid dengan tanda-tanda klasik
penyakit Hirschsprung.
Barium
enema
o Tampak daerah penyempitan di bagian rektum ke proksimal yang panjangnya bervariasi;
o Terdapat daerah transisi, terlihat di proksimal daerah penyempitan ke arah daerah dilatasi;
o Terdapat daerah pelebaran lumen di proksimal daerah transisi
o Tampak daerah penyempitan di bagian rektum ke proksimal yang panjangnya bervariasi;
o Terdapat daerah transisi, terlihat di proksimal daerah penyempitan ke arah daerah dilatasi;
o Terdapat daerah pelebaran lumen di proksimal daerah transisi
Anal
manometri (balon ditiupkan dalam rektum untuk mengukur tekanan dalam
rektum)
Sebuah
balon kecil ditiupkan pada rektum. Ano-rektal manometri mengukur
tekanan dari otot sfingter anal dan seberapa baik seorang dapat
merasakan perbedaan sensasi dari rektum yang penuh. Pada
anak-anakyang memiliki penyakit Hirschsprung otot pada
rektum tidak relaksasi secara normal. Selama tes, pasien diminta untuk memeras,
santai, dan mendorong. Tekanan otot spinkter anal diukur selama aktivitas. Saat
memeras, seseorang mengencangkan otot spinkter seperti mencegah sesuatu keluar.
Mendorong, seseorang seolah mencoba seperti pergerakan usus. Tes ini biasanya
berhasil pada anak-anak yangkooperatif dan dewasa.
Biopsi
rektum
Ini merupakan tes paling akurat untuk penyakit Hirschsprung. Dokter mengambil bagian sangat kecil darirektum untuk dilihat di bawah mikroskop. Anak-anak dengan penyakit Hirschsprung akan tidak memiliki sel-sel ganglion pada sampel yang diambil. Pada biopsi hisap, jaringan dikeluarkan dari kolon dengan menggunakan alat penghisap. Karena tidak melibatkan pemotongan jaringan kolon maka tidak diperlukan anestesi.
Ini merupakan tes paling akurat untuk penyakit Hirschsprung. Dokter mengambil bagian sangat kecil darirektum untuk dilihat di bawah mikroskop. Anak-anak dengan penyakit Hirschsprung akan tidak memiliki sel-sel ganglion pada sampel yang diambil. Pada biopsi hisap, jaringan dikeluarkan dari kolon dengan menggunakan alat penghisap. Karena tidak melibatkan pemotongan jaringan kolon maka tidak diperlukan anestesi.
Jika
biopsi menunjukkan adanya ganglion, penyakit Hirschsprung tidak
terbukti. Jika tidak terdapat sel-selganglion pada jaringan contoh, biopsi
full-thickness biopsi diperlukan untuk mengkonfirmasi penyakitHirschsprung.
Pada biopsi full-thickness lebih banyak
jaringan dari lapisan yang lebih dalam dikeluarkan secara
bedah untuk kemudian diperiksai di bawah mikroskop. Tidak adanya
sel-sel ganglion menunjukkan penyakit Hirschsprung.
Diagnosis Keperawatan (4)
PENGERTIAN
Diagnosis Keperawatan merupakan
keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang
masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan
pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi,
mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976
& NANDA).
Diagnosis keperawatan ditetapkan
berdasarkan analisis dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian
keperawatan klien. Diagnosis keperawatan memberikan gambaran tentang masalah
atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi,
dimana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat.
KOMPONEN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Rumusan diagnosis keperawatan
mengandung tiga komponen utama, yaitu :
1. Problem
(P/masalah), merupakan gambaran keadaan klien dimana tindakan
keperawatan dapat diberikan. Masalah adalah kesenjangan
atau penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya tidak terjadi.
Tujuan :
menjelaskan status kesehatan klien atau masalah kesehatan klien secara jelas
dan sesingkat mungkin. Diagnosis keperawatan disusun dengan menggunakan
standart yang telah disepakati (NANDA, Doengoes, Carpenito, Gordon, dll),
supaya :
- Perawat dapat berkomunikasi dengan istilah yang dimengerti secara umum
- Memfasilitasi dan mengakses diagnosa keperawatan
- Sebagai metode untuk mengidentifikasi perbedaan masalah keperawatan dengan masalah medis
- Meningkatkan kerjasama perawat dalam mendefinisikan diagnosis dari data pengkajian dan intervensi keperawatan, sehingga dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan.
2. Etiologi
(E/penyebab), keadaan ini menunjukkan penyebab keadaan atau masalah
kesehatan yang memberikan arah terhadap terapi keperawatan. Penyebabnya
meliputi : perilaku, lingkungan, interaksi antara perilaku dan lingkungan.
Unsur-unsur
dalam identifikasi etiologi :
- Patofisiologi penyakit : adalah semua proses penyakit, akut atau kronis yang dapat menyebabkan / mendukung masalah.
- Situasional : personal dan lingkungan (kurang pengetahuan, isolasi sosial, dll)
- Medikasi (berhubungan dengan program pengobatan/perawatan) : keterbatasan institusi atau rumah sakit, sehingga tidak mampu memberikan perawatan.
- Maturasional :
Adolesent : ketergantungan dalam kelompok
Young Adult : menikah, hamil, menjadi orang tua
Dewasa : tekanan karier, tanda-tanda pubertas.
3. Sign
& symptom (S/tanda & gejala), adalah ciri, tanda atau gejala,
yang merupakan informasi yang diperlukan untuk merumuskan diagnosis
keperawatan.
Jadi rumus diagnosis keperawatan
adalah : PE / PES.
PERSYARATAN PENYUSUNAN DIAGNOSIS
KEPERAWATAN
1. Perumusan
harus jelas dan singkat dari respon klien terhadap situasi atau keadaan yang
dihadapi
2. Spesifi
dan akurat (pasti)
3. Dapat
merupakan pernyataan dari penyebab
4. Memberikan
arahan pada asuhan keperawatan
5. Dapat
dilaksanakan oleh perawat
6. Mencerminan
keadaan kesehatan klien.
HAL-HAL YANG
PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENENTUKAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Berorientasi
kepada klien, keluarga dan masyarakat
2. Bersifat
aktual atau potensial
3. Dapat
diatasi dengan intervensi keperawatan
4. Menyatakan
masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat, serta faktor-faktor
penyebab timbulnya masalah tersebut.
ALASAN
PENULISAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Memberikan
asuhan keperawatan secara komprehensif
2. Memberikan
kesatuan bahasa dalam profesi keperawatan
3. Meningkatkan
komunikasi antar sejawat dan profesi kesehatan lainnya
4. Membantu
merumuskan hasil yang diharapkan / tujuan yang tepat dalam menjamin mutu asuhan
keperawatan, sehingga pemilihan intervensi lebih akurat dan menjadi pedoman
dalam melakukan evaluasi
5. Menciptakan
standar praktik keperawatan
6. Memberikan
dasar peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.
PROSES
PENYUSUNAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Klasifikasi
& Analisis Data
Pengelompokkan
data adalah mengelompokkan data-data klien atau keadaan tertentu dimana klien
mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria
permasalahannya. Pengelmpkkan data dapat disusun berdasarkan pola respon
manusia (taksonomi NANDA) dan/atau pola fungsi kesehatan (Gordon, 1982);
Respon Manusia (Taksonomi NANDA II)
:
- Pertukaran
- Komunikasi
- Berhubungan
- Nilai-nilai
- Pilihan
- Bergerak
- Penafsiran
- Pengetahuan
- Perasaan
Pola Fungsi
Kesehatan (Gordon, 1982) :
- Persepsi kesehatan : pola penatalaksanaan kesehatan
- Nutrisi : pola metabolisme
- Pola eliminasi
- Aktivitas : pola latihan
- Tidur : pola istirahat
- Kognitif : pola perseptual
- Persepsi diri : pola konsep diri
- Peran : pola hubungan
- Seksualitas : pola reproduktif
- Koping : pola toleransi stress
- Nilai : pola keyakinan
2. Mengindentifikasi
masalah klien
Masalah klien
merupakan keadaan atau situasi dimana klien perlu bantuan untuk mempertahankan
atau meningkatkan status kesehatannya, atau meninggal dengan damai, yang dapat
dilakukan oleh perawat sesuai dengan kemampuan dan wewenang yang dimilikinya
Identifikasi
masalah klien dibagi menjadi : pasien tidak bermasalah, pasien yang kemungkinan
mempunyai masalah, pasien yang mempunyai masalah potensial sehingga kemungkinan
besar mempunyai masalah dan pasien yang mempunyai masalah aktual.
- Menentukan kelebihan klien
Apabila klien
memenuhi standar kriteria kesehatan, perawat kemudian menyimpulkan bahwa klien
memiliki kelebihan dalam hal tertentu. Kelebihan tersebut dapat digunakan untuk
meningkatkan atau membantu memecahkan masalah yang klien hadapi.
- Menentukan masalah klien
Jika klien
tidak memenuhi standar kriteria, maka klien tersebut mengalami keterbatasan
dalam aspek kesehatannya dan memerlukan pertolongan.
- Menentukan masalah yang pernah dialami oleh klien
Pada tahap ini,
penting untuk menentukan masalah potensial klien. Misalnya ditemukan adanya
tanda-tanda infeksi pada luka klien, tetapi dari hasil test laboratorium, tidak
menunjukkan adanya suatu kelainan. Sesuai dengan teori, maka akan timbul adanya
infeksi. Perawat kemudian menyimpulkan bahwa daya tahan tubuh klien tidak mampu
melawan infeksi.
- Penentuan keputusan
- Tidak
ada masalah, tetapi perlu peningkatan status dan fungsi (kesejahteraan) : tidak
ada indikasi respon keperawatan, meningkatnya status kesehatan dan kebiasaan,
serta danya inisiatif promosi kesehatan untuk memastikan ada atau tidaknya
masalah yang diduga.
- Masalah
kemungkinan (possible problem) : pola mengumpulkan data yang lengkap untuk
memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga
- Masalah
aktual, resiko, atau sindrom : tidak mampu merawat karena klien menolak masalah
dan pengobatan, mulai untuk mendesain perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
untuk mencegah, menurunkan, atau menyelesaikan masalah.
- Masalah
kolaboratif : konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional yang ompeten
dan bekerja secara kolaboratif pada masalah tersebut. Masalah kolaboratif
adalah komplikasi fisiologis yang diakibatkan dari patofisiologi, berhubungan
dengan pengobatan dan situasi yang lain. Tugas perawat adalah memonitor, untuk
mendeteksi status klien dan kolaboratif dengan tenaga medis guna pengobatan
yang tepat.
3. Memvalidasi
diagnosis keperawatan
Adalah
menghubungkan dengan klasifikasi gejala dan tanda-tanda yang kemudian merujuk
kepada kelengkapan dan ketepatan data. Untuk kelengkapan dan ketepatan data,
kerja sama dengan klien sangat penting untuk saling percaya, sehingga
mendapatkan data yang tepat.
Pada tahap ini,
perawat memvalidasi data yang ada secara akurat, yang dilakukan bersama
klien/keluarga dan/atau masyarakat. Validasi tersebut dilaksanakan dengan
mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang reflektif kepada klien/keluarga
tentang kejelasan interpretasi data. Begitu diagnosis keperawatan disusun, maka
harus dilakukan validasi.
4. Menyusun
diagnosis keperawatan sesuai dengan prioritasnya
Setelah perawat mengelompokkan,
mengidentifikasi, dan memvalidasi data-data yang signifikan, maka tugas perawat
pada tahap ini adalah merumuskan suatu diagnosis keperawatan. Diagnosa
keperawatan dapat bersifat aktual, resiko, sindrom, kemungkinan dan
wellness.
Menyusun diagnosis keperawatan
hendaknya diurutkan menurut kebutuhan yang berlandaskabn hirarki Maslow
(kecuali untuk kasus kegawat daruratan — menggunakan prioritas berdasarkan
“yang mengancam jiwa”) :
- Berdasarkan Hirarki Maslow : fisiologis, aman-nyaman-keselamatan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri
- Griffith-Kenney Christensen : ancaman kehidupan dan kesehatan, sumber daya dan dana yang tersedia, peran serta klien, dan prinsip ilmiah dan praktik keperawatan.
KATEGORI DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Diagnosis
Keperawatan Aktual
Diagnosis keperawatan aktual (NANDA)
adalah diagnosis yang menyajikan keadaan klinis yang telah divalidasikan
melalui batasan karakteristik mayor yang diidentifikasi. Diagnosis
keperawatan mempunyai empat komponen : label, definisi, batasan karakteristik,
dan faktor yang berhubungan.
Label merupakan
deskripsi tentang definisi diagnosis dan batasan karakteristik. Definisi menekankan
pada kejelasan, arti yang tepat untuk diagnosa. Batasan karakteristik adalah
karakteristik yang mengacu pada petunjuk klinis, tanda subjektif dan objektif.
Batasan ini juga mengacu pada gejala yang ada dalam kelompok dan mengacu pada
diagnosis keperawatan, yang teridiri dari batasan mayor dan minor. Faktor yang
berhubungan merupakan etiologi atau faktor penunjang. Faktor ini dapat
mempengaruhi perubahan status kesehatan. Faktor yang berhubungan terdiri dari
empat komponen : patofisiologi, tindakan yang berhubungan, situasional, dan
maturasional.
Contoh
diagnosis keperawatan aktual : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
penurunan transport oksigen, sekunder terhadap tirah baring lama, ditandai
dengan nafas pendek, frekuensi nafas 30 x/mnt, nadi 62/mnt-lemah, pucat,
sianosis.
2. Diagnosis
Keperawatan Resiko
Diagnosis
keperawatan resiko adalah keputusan klinis tentang individu, keluarga atau
komunitas yang sangat rentan untuk mengalami masalah dibanding individu atau
kelompok lain pada situasi yang sama atau hampir sama.
Validasi untuk
menunjang diagnosis resiko adalah faktor resiko yang memperlihatkan keadaan
dimana kerentanan meningkat terhadap klien atau kelompok dan tidak menggunakan
batasan karakteristik. Penulisan rumusan diagnosis ini adalag : PE (problem
& etiologi).
Contoh : Resiko
penularan TB paru berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang resiko
penularan TB Paru, ditandai dengan keluarga klien sering menanyakan penyakit
klien itu apa dan tidak ada upaya dari keluarga untuk menghindari resiko
penularan (membiarkan klien batuk dihadapannya tanpa menutup mulut dan hidung).
3. Diagnosis
Keperawatan Kemungkinan
Merupakan
pernyataan tentang masalah yang diduga masih memerlukan data tambahan dengan
harapan masih diperlukan untuk memastikan adanya tanda dan gejala utama adanya
faktor resiko.
Contoh :
Kemungkinan gangguan konsep diri : gambaran diri berhubungan dengan tindakan
mastektomi.
4. Diagnosis
Keperawatan Sejahtera
Diagnosis
keperawatan sejahtera adalah ketentuan klinis mengenai individu, kelompok, atau
masyarakat dalam transisi dari tingkat kesehatan khusus ke tingkat kesehatan
yang lebih baik. Cara pembuatan diagnsosis ini adalah dengan menggabungkan
pernyataan fungsi positif dalam masing-masing pola kesehatan fungsional sebagai
alat pengkajian yang disahkan. Dalam menentukan diagnosis keperawatan
sejahtera, menunjukkan terjadinya peningkatan fungsi kesehatan menjadi fungsi
yang positif.
Sebagai contoh,
pasangan muda yang kemudian menjadi orangtua telah melaprkan fungsi positif
dalam peran pola hubungan. Perawat dapat memakai informasi dan lahirnya bayi
baru sebagai tambahan dalam unit keluarga, untuk membantu keluarga
mempertahankan pola hubungan yang efektif.
Contoh :
perilaku mencari bantuan kesehatan berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang peran sebagai orangtua baru.
5. Diagnosis
Keperawatan Sindrom
Diagnosis
keperawatan sindrom merupakan diagnosis keperawatan yang terdiri dari
sekelompok diagnosis keperawatan aktual atau resiko, yang diduga akan muncul
karena suatu kejadian atau situasi tertentu.
Contoh :
sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik.
MASALAH
KOLABORATIF
Masalah
kolaboratif adalah masalah yang nyata atau resiko yang mungkin terjadi akibat
komplikasi dari penyakit atau dari pemeriksaan atau akibat pengobatan, yang
mana masalah tersebut hanya bisa dicegah, diatasi, atau dikurangi dengan
tindakan keperawatan yang bersifat kolaboratif. Label yang digunakan adalah :
Potensial Komplikasi (PK).
MENCEGAH
KESALAHAN DALAM MEMBUAT DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Tidak
menggunakan istilah medis. Jika harus, hanya sebatas memperjelas, dengan diberi
pernyataan `sekunder terhadap`.
Ex : mastektomi
b.d kanker
2. Tidak
merumuskan diagnosis keperawatan sebagai suatu diagnosa medis
Ex : Resiko
pneumonia
3. Jangan
merumuskan diagnosis keperawatan sebagai suatu intervensi keperawatan
Ex :
Menggunakan pispot sesering mungkin b.d dorongan ingin berkemih
4. Jangan
menggunakan istilah yang tidak jelas. Gunakan istilah / pernyataan yang lebih
spesifik.
Ex : Tidak
efektifnya bersihan jalan nafas b.d kesulitan bernafas
5. Jangan
menulis diagnosis keperawatan yang mengulangi instruksi dokter
Ex : Instruksi
untuk puasa
6. Jangan
merumuskan dua masalah pada saat yang sama
Ex : Nyeri dan takut b.d prosedur
operasi
7. Jangan
menghubungkan masalah dengan situasi yang tidak dapat diubah
Ex : Resiko cedera b.d kebutaan
8. Jangan
menuliskan etiologi atau tanda/gejala untuk masalah
Ex : Kongesti
paru b.d tirah baring lama
9. Jangan
membuat asumsi
Ex : Resiko
perubahan peran b.d tidak berpengalaman menjadi ibu baru.
10. Jangan
menulis pernyataan yang tidak bijaksana secara hukum
Ex : Kerusakan
integritas kulit b.d posisi klien tidak diubah setiap 2 jam.
DOKUMENTASI
DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Gunakan
format PES untuk semua masalah aktual dan PE untuk masalah resiko
2. Catat
diagnosis keperawtaan resiko ke dalam format diagnosis keperawatan
3. Gunakan
istilah diagnosis keperawatan yang ada dalam NANDA ( terbaru : 2007 – 2008 )
4. Mulai
pernyataan diagnosis keperawatan dengan mengidentifikasi informasi tentang data
untuk diagnosis keperawatan
5. Masukkan
pernyataan diagnosis keperawatan ke dalam daftar masalah
6. Hubungkan
setiap diagnosis keperawatan ketika menemuan masalah perawatan
7. Gunakan
diagnosis keperawatan sebagai pedoman untuk pengkajian, perencanaan, intervensi
dan evaluasi.
Tujuan Dokumentasi Diagnosis
Keperawatan :
1. Mengkomunikasikan
masalah klien pada tim kesehatan
2. Mendemonstrasikan
tanggung jawab dalam identifikasi masalah klien
3. Mengidentifikasi
masalah utama untuk perkembangan intervensi keperawatan.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar